0
Dikirim pada 30 Juni 2009 di Ruang Ekspresi

sebuah karya elfaqir
SEHARI TANPA DOSA

“Ya Allah !!!” seru Arif.
“Selamatkan aku, Ya Allah !” seru Arif dalam langkahnya.
…………..
Siang yang panas dan naas itu, Arif berlari kencang menghindari kejaran dari para warga yang berlari sambil berteriak lantang. Arif hampir putus asa berlari ketika merasa-kan sendi-sendi kakinya mulai tidak berfungsi dengan selayaknya, karena sudah hampir tiga jam ia berlari untuk berusaha keluar dari kampungnya tanpa berhenti. Tapi Arif masih terus berlari dengan payah. Sampai akhirnya Arif melihat sebuah bangunan yang belum selesai pembangunannya dari jauh dan menurutnya cocok untuk tempat beristirahat. Arif mempercepat larinya mendekati bangunan itu.
 “Ya Allah, aku mohon Ya Allah !!!” seru Arif seraya terus berlari meregang ke-ringat yang merembes keluar dengan bergerombolan dari kulitnya.
 Jarak Arif dengan bangunan itu sudah semakin dekat. Arif memperlambat langkahnya. Dia yakin bahwa dia bisa menjangkau bangunan itu. Namun tanpa diduga tiba-tiba Arif melihat sekelebat bayangan putih berjalan cepat ke arahnya dari depannya. Arif benar-benar memperlambat langkahnya dan berusaha untuk berhenti, namun sisa-sisa tenaganya masih memberi Arif kekuatan untuk terus berlari.
 Tak lama kemudian bayangan putih itu sudah berada di depan Arif dan bukan main ia terkejutnya, bahwa bayangan putih itu menembus dirinya. Bayangan itu menghilang setelah menembus dirinya. Arif terpaksa menjatuhkan dirinya untuk berhenti.
 Ketika ia berhenti, Arif menengok ke belakangnya untuk memastikan bahwa tadi ia melihat sekelebat bayangan putih yang menembusnya. Tapi sia-sia, tak ada satupun bayangan yang ada di belakangnya. Arif kecewa dan masih bernapas dengan susah payah. Seakan takdir tidak berpihak pada Arif, dia melihat sekumpulan warga dari jauh berlari ke arahnya sambil membawa golok, pisau, bahkan melayangkan samurai ke udara dengan tangan-tangan mereka.
 Arif tidak mampu untuk berlari. Dia menyerah. Dia menyerah kepada Allah, dan pasrah kepada-Nya atas takdir apapun yang akan diberikan padanya.
 “Aku capek, Ya Allah …” ujar Arif lemas.
 Tiba-tiba jantung Arif seakan berhenti, ia terjatuh lemas. Tapi sebelum Arif me-masuki alam bawah sadarnya, ia merasakan tubuhnya seperti terangkat oleh sesuatu.

  * * *

Sesuatu berkilau di udara, nyawa-nyawa Arif sudah berkumpul di raganya. Kesadaran sudah mendominasi tubuh Arif. Arif pun terbangun dari pingsannya, tetapi kepalanya masih pusing entah kenapa. Kemudian Arif membuka mulutnya dengan payah.
 “Aku a-ada di-dimana ?” tanya Arif lemas.
 “Tenang, mas. Mas ada di tempat saya.” jawab seorang perempuan.
 Arif panik setelah mendengar suara perempuan itu dan berusaha untuk duduk dari tidurnya. Arif meraba kepalanya yang merasa pening sekali.
 “Ada di mana saya ?” tanya Arif lagi dengan tegas.
 “Mas ada di rumah saya, nama saya Nur.” jawab Nur lembut.
 Arif bingung sendiri. Lalu bagaimana dengan para warga yang hendak membu-nuhnya karena Arif di fitnah telah memperkosa seorang gadis kampung yang rupawan. Pikiran Arif jadi berantakan lalu ia mulai mengingat kembali masa lalunya, kenapa ia sampai difitnah dan kenapa ia sampai berlari, lalu sampai di rumah seorang perempuan bernama Nur.
 
  * * *

Pagi-pagi sekali, Arif sudah bangun tanpa melaksanakan sholat Shubuh terlebih dahulu.
Arif berjalan menyeberangi ruang tamu dan berhenti di teras depan rumahnya. Lalu Arif duduk di kursi kayu goyang milik kakeknya yang sudah bergelar Almarhum. Arif meng-goyangkan kursinya untuk membuat dirinya nyaman pagi itu.
 Tak lama kemudian Ibunya keluar dari dalam rumah. Seorang perempuan sete-ngah baya yang masih terlihat muda dengan beberapa keriput ringan di wajahnya ber-jalan keluar rumah melewati pintu depan dengan mengenakan pakaian yang menutup auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.  
 “Rif, sudah sholat Shubuh ?” dengan suara yang diusahakan untuk selembut mungkin karena suaranya sudah tua.
 “Sudah, Bu !” jawab Arif lantang.
 “Bagus, Ibu percaya pada Arif kok.” Balas ibunya dengan senyum. Lalu pergi masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerajaannya.
 Arif kembali menatap kampungnya dari teras rumahnya. Tiba-tiba ia melihat gadis rupawan berjalan dari ujung kampung membawa sekantong besar sayur-sayuran di tangannya. Gadis itu memakai pakaian yang sangat terlarang untuk di pakai seorang muslimah, dengan baju yang memperlihatkan pusar dan belah dadanya serta celana pendek yang hampir memperlihatkan seluruh bagian kakinya, gadis itu berjalan dengan gemulai. Gadis itu bernama Halimah. Entah kenapa setiap kali ia melihat Halimah hati Arif selalu bergetar. Rasa itu sudah terjadi berulang kali sejak ia SMA, tepatnya saat Arif pindah ke Kampung Pramudarma itu.
 Arif tercengang melihat liuk tubuhnya yang mengundang hasrat haram ketika Halimah berjalan berbelok menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah Arif. Arif terkadang berpikir, kenapa Halimah tidak menutup auratnya ?
 Arif sangat yakin kalau Halimah itu beragama Islam. Tetapi sejak pertama kali melihat, Halimah selalu berpakaian yang mengundang gairah lelaki yang tersembunyi. Tak berbeda dengan lelaki yang sudah sering ke rumah Halimah untuk memuaskan gai-rah mereka, Arif pun memiliki hasrat itu sekarang. Tanpa bersiap-siap dan berganti pa-kaian Arif berjalan keluar dari teras rumahnya menuju rumah Halimah seraya menengok ke samping kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya.
 Sesampainya di depan rumah Halimah, Arif langsung mengetuk pintu depan ru-mah Halimah. Untuk kedua kalinya Arif mengetuk barulah Halimah keluar dan langsung menyapa Arif.
 “Eh Mas Arif, ada apa mas pagi-pagi sekali ke sini ?” tanya Halimah lembut.
 “Eh-eh-ehm, mas juga bingung mau ngapain ke sini.” jawab Arif gugup.
 Seakan Halimah mengerti apa yang diinginkan hasrat Arif, Halimah langsung mengajak Arif masuk ke dalam rumahnya. Arif berjalan masuk mengikuti langkah Hali-mah menuju bagian dalam rumah Halimah tanpa sadar ada sepasang mata yang menga-wasi Halimah dan Arif di balik semak-semak dekat pohon depan rumah Halimah.
 Ketika sudah sampai di dalam rumah Halimah, Arif langsung angkat bicara.
 “Eh, Halimah, Mas Arif mau ngomong nih.” ujar Arif masih gugup.
 “Mau ngomong apa, mas ?” sahut Halimah sambil mengibaskan rambutnya de-ngan genit dan menyungging senyum di bibirnya.
 “Mas Arif lebih senang melihat Halimah jika Halimah memakai jilbab setiap hari dan dengan pakaian yang menutup aurat. Karena dalam Islam pakaian yang dipakai Halimah seperti sekarang sangat terlarang untuk dipakai perempuan muslimah seperti Halimah.” jelas Arif tanpa gugup sama sekali.
 Tiba-tiba senyum di bibir Halimah menghilang. Wajah Halimah memerah, dan dengan rasa kesal sekali, Halimah membentak Arif.
 “Kalau mau ceramah jangan di sini !!!” bentak Halimah. “KELUAR !!!”
 Arif segera berlari keluar dari rumah Halimah dengan rasa kecewa. Ketika sampai di teras depan rumah Halimah, Arif tercengang melihat para warga berkumpul di depan rumah Halimah dengan raut wajah yang merah padam.
 “Mau kau perkosa, si Halimah? Arif !!!” bentak salah satu warga.
 “Kami sudah muak dengan semua kebohonganmu, Arif !” sahut salah satu warga yang lain dengan pisau di tangannya.
 “Lebih baik kau mengaku, Rif !” bentak salah seorang warga bernama Parji.
 “Mengaku ?” tanya Arif bingung.
 “Selama ini kau yang selalu merenggut kehormatan Halimah, kan ?” bentak Her-man tetangga Arif.
 “Aku tidak pernah memperkosa Halimah ! INI FITNAH !!!” balas Arif tegas.
 “BANGSAT KAU ARIF !!!” seru Herman lalu langsung memukul kepala Arif hingga Arif tumbang.
 Tanpa berpikir panjang Arif bangun dan langsung berlari menjauh dari para warga. Tak mau kalah para warga juga langsung mengejar Arif kemana pun Arif berlari. Arif berlari menuju ujung kampung untuk dapat keluar dari kampungnya itu.

  * * *

Arif tersadar dari pikiran-pikiran masa lalunya itu. Dan Arif kembali memandang perem-puan dengan mengenakan jilbab dan pakaian yang menutup aurat di depannya sekarang.
 “Mas, tidak apa apa ?” tanya Nur sambil mengerutkan dahi.
 “Saya baik-baik saja.” jawab Arif. Arif merasa harus mengungkapkan namanya kepada Nur, karena Nur sudah memberitahu namanya.
 “Nama saya Arif.” ujar Arif gugup.
 “Sepertinya, Mas Arif belum mandi, ya? Nur punya kamar mandi di belakang.” jelas Nur kepada Arif.
 “Tidak usah repot-repot. Nur. Saya mau langsung pergi.” balas Arif tenang.
 “Lho, kenapa terburu-buru ?” tanya Nur lembut.
 “Maaf, Nur. Tapi saya benar-benar harus pergi.” jawab Arif tegas.
 Nur menjadi cemberut dan memalingkan muka dari Arif. Kemudian Nur berdiri dari duduknya. Sebelum Nur sempat berjalan, Arif langsung berbicara.
 “Tapi, Arif sangat berterima kasih atas kebaikan Nur karena telah menolong Arif dari kejaran para warga.” ujar Arif.
 Nur tersenyum, dan Arif pun ikut tersenyum melihat senyuman Nur yang indah. Bahkan lebih indah dibanding senyuman Halimah.
 “Tidak apa-apa, Mas Arif. Nur hanya berharap, suatu hari Nur akan mengetahui kenapa Mas Arif dikejar para warga.” jelas Nur. “kalau mau pergi, tutup saja pintu depan. Tak perlu dikunci. Nur juga berterima kasih, Assalamualaikum.”
 Kemudian Nur pergi meninggalkan Arif menuju pintu depan rumahnya. Arif termenung sambil mengawasi Nur yang berjalan pergi hendak belanja.

  * * *

Arif mengenakan sepatu talinya di depan rumah Nur yang sekarang sudah sepi. Mulai saat itu, Arif sudah bertekad akan meninggalkan kampungnya dan berkelana. Entah kena-pa Arif membuat tekad itu dan membulatkannya. Mungkin karena ia menganggap secara logika, karena Arif pun sekarang sedang kuliah dan mengambil fakultas filsafat, bahwa ia sudah tidak diterima oleh kampungnya oleh ulahnya yang accidental dan bahkan belum bisa di jelaskan dengan kata-kata yang masuk akal.
 Meskipun peristiwa pengejaran Arif tadi adalah suatu tindakan anarki suatu kampung yang tidak memakai peraturan, hukum, dan ketertiban yang jelas, Arif tetap merasa dirinya tidak bersalah. Karena ia memang tidak memperkosa Halimah.
 “SIAL !!! KENAPA KAU TIDAK MEMBANTUKU, YA ALLAH ?!” seru Arif kencang sambil menatap langit dan hampir menangis tapi ia berusaha agar tidak me-nangis layaknya perempuan.
 Arif kembali berjalan sambil menahan rasa kesal dalam dirinya yang merasa sudah sangat jauh sekali dari jalan Allah. Ia kembali mengingat Allah, akan tetapi itu tidak absolut. Di satu sisi ia merasa sangat kesal sekali dengan takdir yang Allah berikan.
 Tak jauh dari jalan yang ia lewati, Arif melihat sebuah bangunan megah di keli-lingi oleh pagar yang kokoh. Ada semacam hiasan di atap bangunan itu, yang akan membuat siapa saja terkagum melihatnya. Dari luar bangunan terlukiskan kaligrafi-kali-grafi indah buatan tangan. Dan siapa saja akan melepas alas kaki mereka ketika akan memasuki bangunan itu. Bangunan itu kita sebut, Masjid.
 “Gereja lebih indah dibandingkanmu !” seru Arif meledek bangunan itu.
 Arif benar-benar sudah jauh dari Allah. Dia merasa benar-benar sudah ingin keluar dari agama Islam yang selama ini ia pegang teguh. Lagipula semenjak ia masuk di fakultas filsafat, semua teori-teori ketuhanan Allah sangat tidak absolut menurut Arif.
 Arif berlutut di seberang bangunan itu. Dan kembali memikirkan alasan apa yang telah membuat ia percaya bahwa Allah itu benar-benar ada.
 “Ha-ha, ha… aku sempat iri dengan nasrani, Ya Allah. Mereka bisa melihat Tuhan mereka, sementara selama ini aku tidak bisa melihat Tuhanku sendiri. Lalu kepada siapa aku berdoa selama ini?” ujar Arif lantang.
 Arif sedikit menitikan air matanya ke tanah. Karena tak mampu menahan rasa sakit di dalam tubuhnya selama ini. Penyakit yang selama ini ia pendam. Sebuah penyakit yang memang tidak memiliki banyak harapan untuk sembuh, Sirosis. Penyakit yang me-nyerang organ hati dalam tubuh itu memang terdengar mengerikan bagi Arif. Mengingat itu semua, Arif telah berdoa agar Allah menyembuhkan penyakitnya dari sejak ia SMP, ketika ia divonis memiliki penyakit sirosis. Bahkan ayahnya sendiri tidak mau membawa Arif ke rumah sakit, dengan mengikrarkan kata-kata yang berhubungan dengan kesulitan keluarga di bidang ekonomi. Ujung-ujungnya Arif malah menyalahkan pemerintahan negara yang ia singgahi sekarang, Indonesia.
 Arif tidak dapat membayangkan, apa yang dipikirkan presiden kita sampai bisa membuat keadaan ekonomi, sosial, budaya menjadi seperti sekarang ini? Tidak dapat ditebak seperti apa birokrasi kita sekarang. Semua menjadi terbengkalai semenjak adat-istiadat Eropa mendominasi pikiran orang-orang Indonesia.
 Arif berdiri tanpa membuang pemikiran-pemikiran yang dianggapnya itu adalah pemikiran filosofis, dari posisinya yang berlutut. Kemudian Arif melanjutkan berkelana mencari jawaban dan solusi bahkan cara untuk dapat keluar dari Agama Islam. Dan me-mang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa, fondasi keimanan Agama Islam yang dimiliki Arif sudah hancur berantakan. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa itu disebabkan karena ia sering sekali meninggalkan Sholat yang memang sangat sulit untuk dilaksana-kan bahkan bisa jadi lebih sulit daripada mengurus negara, Sholat Shubuh.

  * * *

Kedua kaki Arif sekarang menginjak tanah becek di kampung seberang Kampung Pramu-darma, sebuah kampung yang diberi nama Kampung Tumegung ketika senja mengajak dunia bersamanya. Arif yakin pasti di kampung ini sering terjadi hujan. Karena tanah lembek seperti lumpur. Di samping itu, Arif tidak melihat ada kendaraan bermotor, bah-kan sepeda di kampung itu.
 “Aku harus menetap di salah satu rumah di kampung ini.” ujar Arif lelah.
 Dia benar, dia butuh istirahat. Hampir seharian ia belum makan. Kaki dan tubuh-nya sangat lelah begitupun matanya yang sudah tidak bersahabat lagi. Tiba-tiba Arif me-rasakan seluruh tubuh, daging, tulangnya meleleh. Lemas, letih, lesu menguasai tubuh Arif. Ia sudah tidak mampu lagi berjalan. Arif tumbang dan berlutut di tanah becek itu. Tak jauh dari jalan tempat Arif berlutut, datang seorang lelaki berpakaian putih dan sorban di kepalanya. Sudah pasti itu seorang Ulama atau Ustadz menurut Arif. Tapi ia tidak mau memanggil orang itu dengan sebutan “Pak Haji”, karena belum tentu semua lelaki yang bersorban itu sudah berhaji.
 Ustadz itu berlari mendekati Arif, tidak peduli jalanan yang becek mengotori pa-kaiannya yang putih suci. Tepat sebelum Arif menceburkan kepalanya ke tanah becek itu, Sang Ustadz berhasil mendekap Arif dengan kuat.
 “Astaghfirullah ! Ayo nak, kamu pasti bisa !” seru Ustadz itu.
 Arif tidak peduli orang itu bilang apa, karena ia sangat lemas. Tapi Ustadz itu te-tap menahan tubuh Arif agar tidak jatuh.
 “Bismillah… !” seru Ustadz dan mengangkat tubuh Arif sepenuhnya. Ternyata dengan bantuan Allah, Arif berhasil diberdirikan dan akhirnya Sang Ustadz membopong Arif menuju sebuah rumah.
 “Siapa namamu, nak ?” tanya Ustadz itu seraya menuntun Arif berjalan.
 “Arif, p-pak. Arif Musydzalimun.” jawab Arif dengan susah.
 “MasyaAllah ! Namamu bagus, nak.” sahut Ustadz.
 “Nama b-bapak siapa?” tanya Arif.
 “Saya, Haji Slamet Kuncoro. Biasa dipanggil Pak Slamet.” Jawab Ustadz Slamet.
 Arif tidak menyangka kalau orang ini sudah haji. Tapi Arif tidak terlalu terkejut, karena Arif sudah sering melihat orang seperti dia saat masih SMP. Tiba-tiba jantung Arif terasa sakit sekali. Arif memegangi dadanya.
 “Kenapa, nak?” tanya Ustadz Slamet.
 Arif menggeleng memberi jawaban. Kemudian Ustadz Slamet meneruskan perjalanan. Arif terus menahan rasa sakit di dalam dadanya. Seakan sesuatu menusuk-nusuk dada Arif tanpa henti sepanjang perjalanan.
 Akhirnya Ustadz Slamet dan Arif sampai di sebuah rumah.
 “Nah, nak Arif, ini rumah saya. Di dalam ada istri saya.” jelas Ustadz Slamet.
 Arif menatap sebuah rumah kecil yang hampir runtuh dan seakan ada kekuatan misterius yang menahan rumah Ustadz Slamet.
 “Memang sangat jelek. Bahkan mungkin besok pagi, jendela itu akan hancur.” ujar Ustadz Slamet sambil menunjuk sebuah engsel jendela yang hampir lepas di rumah-nya. Kemudian membawa Arif masuk ke rumahnya.
 Tak lama kemudian seorang perempuan yang terlihat cantik keluar dari sebuah kamar. Tapi, Arif sangat tidak menyangka kalau perempuan itu adalah istri Sang Ustadz. Dari paras wajahnya, sangat terlihat kalau perempuan itu masih berumur 30-an.
 “Siapa ini, mas?” tanya Istri Ustadz.
 “Namanya Arif Musydzalimun. Arif, ini istri saya, Fatimah Nur Rahmat. Tapi kami belum memiliki anak.” jelas Ustadz sambil tersenyum. Tapi Bu Fatimah terlihat murung, seperti menahan sebuah kesedihan.
 Arif mulai berpikir filosofis walau tubuhnya lemas. Dengan menetapnya Arif di rumah seorang ustadz, pasti akan ada kesempatan dia kembali ke Agama Islam yang baru beberapa jam yang lalu ia tinggalkan. Arif sangat menolak kesempatan itu pada Tuhan. Begitulah Arif menyebut yang disembahnya sekarang. Tapi Arif sendiri tidak mau dise-but seorang nasrani, karena pengalamannya mempelajari sejarah nasrani yang menjijikan.
Tapi, ia lebih tidak mau disebut Atheis. Karena predikat itu sangat tidak terhormat di segala agama menurutnya.
 “Nah, nak Arif, kamar untukmu ada di sebelah sana. Kau bisa tidur malam ini di rumah ini, anggap saja rumah sendiri.” jelas Ustadz Slamet.
 “Maaf, pak. – (Ustadz Slamet mengerutkan dahinya) – Saya tidak mau menetap di tempat yang kumuh ini.” ujar Arif tentang.
 Mendengar hal itu Ustadz Slamet tetap tenang. Tapi wajah Bu Fatimah berubah menjadi merah padam. Arif yakin kalau perasaan Bu Fatimah sangat kesal mendengar Arif berbicara seperti itu. Tapi Arif tidak peduli, dia hanya butuh makanan. Dia butuh te-naga untuk melanjutkan berkelana.
 “Saya hanya butuh makanan, pak, bu.” jelas Arif lantang.
 “Kurang ajar, kamu ! Sana cari makan sendiri di luar !!!” seru Bu Fatimah keras.
 “Bu ! Tenang !” sahut Ustadz Slamet kepada istrinya.
 Sejenak Ustadz Slamet berpikir. Kemudian mengajak Arif keluar dari rumahnya. Arif menatap wajah Bu Fatimah yang matanya terlihat sangat besar, dan wajahnya sangat merah padam menatap Arif dengan marah.
 Sesampainya di luar rumah, Ustadz Slamet memberi Arif sedikit uang dengan maksud agar Arif membeli makanan dan minuman di Warung Tegal atau di toko. Arif menerimanya dengan senang hati. Setelah itu, Ustadz Slamet memberi isyarat agar Arif segera meninggalkan rumahnya, dan dengan senyum yang khas, Ustadz Slamet melam-baikan tangannya kepada Arif yang sudah berjalan menjauhi rumah Sang Ustadz.
 Arif terus berjalan menelusuri dan berusaha mencari jalan keluar dari Kampung Tumegung ini. Arif hanya diberi uang berwarna biru, dengan gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai di bagian uangnya dan dua tanda tangan dewan gubernurnya tahun 2005, dan di bagian lain uangnya ada gambar bangunan yang menjulang tinggi khas Bali.
 Arif tahu kalau uang itu cukup untuk membeli makanan dan minuman. Ia segera mencari Warung Tegal di sepanjang jalan tapi ia tidak menemukannya. Tanpa berpikir panjang, Arif segera melanjutkan berkelana. Ia menyusuri jalan yang sudah tidak becek ketika matahari pamit dari tugasnya. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang di seluruh Mushola yang ada di Kampung Tumegung itu.
 Arif berlari dengan anggapan ia dapat menyingkirkan suara adzan itu dari telinganya. Tidak cukuplah, ilmu filsafat dapat menjelaskan peristiwa yang terjadi sekarang ter-hadapnya. Arif merasa telinganya seperti sedang ditarik dengan penjepit panas ketika mendengar suara adzan itu.
 “Arrgghhh…” Arif mengerang kesakitan sambil berlari sempoyongan.
 Seakan dunia menolak dirinya, tiba-tiba sebuah tenaga entah dari mana asalnya mendorong Arif hingga terjatuh ke tanah. Ia sudah tidak menghiraukan lagi bahwa pa-kaian dan celananya akan kotor. Ia hanya mampu berpikir, ia dapat menemukan jawaban dari perjalanannya itu suatu saat nanti. Arif pun berdiri dengan susah payah dan melan-jutkan perjalanan sampai akhirnya ia berhasil keluar dari kampung itu dan masih men-dengar kumandang adzan yang menggema di udara.

  * * *

Arif tertegun ketika ia berada di jalan raya metropolitan saat waktu menunjukkan pukul delapan malam. Suara mobil yang hilir-mudik menghiasi kota metropolitan itu. Sadarlah ia bahwa ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya, dan sekarang ia berada di kota yang amat diidam-idamkan para perantau dari beberapa pulau. Sebuah kota yang tidak pernah tidur. Sebuah kota yang selalu menyimpan rahasia di balik kepolosan bangunan-bangunan megahnya. Sebuah kota yang penuh dengan mudharat di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Sebuah kota yang sangat jarang sekali terhiasi karpet hijau. Sebuah kota yang akhirnya akan menjadi saksi bisu perbuatan-perbuatan baik maupun buruk ma-syarakatnya, Kota Jakarta.
 Arif tersenyum ketika melihat sebuah papan tulisan yang bertuliskan, SELAMAT DATANG DI JAKARTA. Inilah yang sangat diimpikannya dari SMP, merasa bebas di sebuah kota metropolitan tanpa ada beban.
 “Bu ! Akhirnya Arif ada di Jakarta !!!” seru Arif malam itu. Tetapi suaranya terdengar samar karena suara mobil yang berjalan lebih keras.
 Dengan masih menyimpan uang dari Ustadz Slamet, Arif melanjutkan perjalanan-nya di kota metropolitannya. Arif merasa sangat senang, karena akhirnya ia berada di sini. Arif kuliah di universitas yang jauh dari kota, dengan mengambil fakultas filsafat. Arif terkadang merasa konyol, karena saat ia benar-benar mempelajari agama dengan ilmu filsafatnya yang masih awam, dia menemukan jawaban bahwa Allah tidak benar-benar ada.
 “ You don’t exist, do you, Allah ?” seru Arif dalam dirinya. Setelah benar-benar merasa memiliki data yang komprehensif tentang ketuhanan Allah secara filosofis.
 Tapi bagaimanapun ia masih butuh belajar lebih dalam tentang itu semua. Arif menjadi bingung ketika berpikir seperti itu. Benar juga, ke mana ia harus belajar ?
 “Aku butuh guru untuk belajar itu semua.” ujar Arif malam itu.
 Dan Arif mulai menyimpulkan pemikirannya, bahwa ia harus mencari universitas filsafat agar ia dapat mendalami semuanya di Jakarta. Tetapi ia tidak akan kuliah di sana. Karena, dari mana ia mendapat uang untuk membayar kuliah di Jakarta ?

  * * *

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Arif menemukan sebuah warung ma-kan di pinggir sebuah rumah bordir. Di saat itulah Arif harus memilih, antara Warung Te-gal dan Rumah Bordir di sampingnya. Arif bingung, dia sangat ingin makan. Tapi ia juga harus memuaskan nafkah batinnya di malam yang dingin itu. Tiba-tiba di teras depan Rumah Bordir keluar seorang gadis dengan pakaian yang sangat minim. Dan langsung menghampiri Arif dengan gaya jalan yang menggoda.
 “Dua malam aku cuma empat puluh ribu rupiah, mas ganteng.” jelas si pelacur itu dengan gaya bicara yang mengundang syahwat lelaki.
 Arif makin tergoda, ketika “Sang Pelacur” mulai meraba beberapa bagian tubuh dari Arif dan mendesah. Arif mulai berpikir, ia memiliki uang yang cukup untuk memba-yar “Sang Pelacur” itu dan untuk makan juga. Empat puluh ribu untuk si pelacur, dan sepuluh ribu untuk makan setelah ia dilayani si pelacur itu.
 Maka dari itu, Arif langsung mengajak si pelacur masuk ke Rumah Bordir di de-depannya. Si pelacur tersenyum puas, kemudian mengecup pipi sebelah kiri Arif. Arif langsung mabuk kepayang membayangkan apa yang akan terjadi setelah ia menjejakkan kedua kakinya di dalam Rumah Bordir itu nantinya bersama si pelacur itu.
 “Namaku Lila, mas.” ujar si pelacur sambil terus mendesah.
 “Nama yang bagus.” balas Arif menggoda.
 Lila tersenyum indah dan menggoda sambil mencubit perut Arif. Seiring Arif dan Lila berjalan memasuki Rumah Bordir, ada seorang lelaki yang terus mengawasi mereka berdua, dan tanpa diketahui oleh Arif dan Lila, lelaki itu masuk ke Rumah Bordir mengi-kuti mereka berdua. Lelaki itu mengenakan jaket tebal berwarna biru gelap dengan kaus putih di dalamnya dan celana jeans biru gelap yang tidak ketat. Ia mengenakan kacamata.
 Ketika Lila dan Arif sudah berdiri di depan kamar Lila di dalam Rumah Bordir itu, lelaki itu langsung memberi Lila uang yang lebih dari uang yang dipegang Arif dan langsung menarik Arif keluar dari Rumah Bordir itu. Lila tampak kecewa sekaligus gem-bira karena menerima uang yang lebih dari seorang lelaki tak dikenal itu tapi nafkah batinnya tidak akan terpuaskan malam ini.
 Sampai di luar, lelaki itu mulai berbicara kepada Arif sambil terus mengajaknya berjalan menjauhi Rumah Bordir.
 “Lila itu gadis gila.” ujar lelaki itu tegas.
 “Apa maksudmu ?” tanya Arif penasaran. Lelaki itu berhenti.
 “Namaku Ferdi. Aku dulunya pacar Lila.” jelas Ferdi.
 “Berapa lama, kalian pacaran ?” tanya Arif geli.
 “Lima… lima…” balas Ferdi sambil berpikir dan mengerutkan dahinya.
 “Lima tahun ?” sahut Arif memotong pembicaraan.
 “Lima jam.” jawab Ferdi tegas setelah menemukan jawabannya.
 “Apa ? Lima jam ? Kenapa ?” tanya Arif.
 “Karena pada jam kelima, Lila mengaku dia pelacur.” jawab Ferdi.
 Arif tertawa pelan, dan mulai bingung dengan Ferdi. “Kenapa kau putusin dia?” tanya Arif setelah berhenti tertawa.
 “Karena aku takut dikenai biaya empat jam pertama.” jawab Ferdi kesal.
 Arif makin tertawa geli.
 “Pada jam keempat lewat empat puluh lima menit ketika dia bilang bahwa dirinya pelacur, Lila cerita padaku bahwa dia harus bisa melayani seratus lelaki agar dendamnya bisa terbalaskan.” jelas Ferdi panjang.
 “Secara filosofis, memang itu tugas pelacur, kan ?” tanya Arif geli.
 “Filosofis ?” Ferdi terdiam. “jangan mengaitkan perkara ini dengan filsafat, kare-na perkara ini terlalu rendah untuk dipandang. Kalau kau memang ingin membahas yang filosofis main saja kerumahku.”
 “Kau suka filsafat ?” tanya Arif semangat.
 “Aku belajar mata kuliah ilmu filsafat di universitasku.” jawab Ferdi senang.
 Arif mengangguk penuh antusias terhadap Ferdi.
 “Kau juga suka filsafat ? Tenang saja, kita tidak akan membahas yang berat-berat. Aku suka berdiskusi dengan sesama calon filsuf.” ujar Ferdi.
 “Eh, ngomong-ngomong, Lila memang dendam apa sampai harus bisa dipuaskan oleh seratus lelaki ?” tanya Arif bingung.
 “Ha ! Dia dendam kepada pembunuh ayahnya. Dulu, ayahnya pejabat salah satu anggota KPK. Entah kenapa, ada yang dendam pada ayahnya. Sampai akhirnya, suatu malam ayahnya dibunuh, dan paginya ayah Lila diketemukan tewas di ranjangnya.” jelas Ferdi panjang. “sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lebih baik sekarang, kau ke rumahku.”

  * * *

Ferdi dan Arif berjalan mengitari Jakarta saat malam sudah begitu larut. Mereka sudah berkali-kali ganti kendaraan malam itu. Sampai pada akhirnya mereka sampai di daerah Pulo Gadung. Ternyata Ferdi tinggal di sebuah rumah susun di daerah tersebut.
 “Berapa biaya tinggal di sini, Di ?” tanya Arif.
 “Tidak banyak, cukup buat kuliah juga. Ayo masuk.” balas Ferdi.
 Ketika mereka sampai di dalam kamar, Arif langsung mengenyakkan tubuhnya di sofa empuk milik Ferdi.
 “Bajumu kotor sekali. Aku punya beberapa pakaian. Pikirku, ukuran pakaian kita pasti sama.” jelas Ferdi.
 “Kau memang mengenakan kacamata, Fer ?” tanya Arif tiba-tiba.
 “Ya. Tapi tolong jangan tanya kenapa.” jawab Ferdi tegas.
 Arif mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Arif melepas semua pakaiannya dan langsung berjalan menuju kamar Ferdi untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, Arif sudah berganti pakaian santai. Kemudian, dari kamar mandi keluar Ferdi dengan ha-nya mengenakan pakaian dalam dan celana boxer bercorak warna merah.
 “Aku capek, Rif. Mungkin kita akan diskusi besok saja. Malam ini aku akan tidur nyenyak. Besok dosenku ada lima. LIMA !!!” ujar Ferdi kesal. Lalu Ferdi menguap dan langsung tidur di sofa depan.
 “Oh, ya. Kamu tidur saja di kamarku. Biar aku tidur di sini.” jelas Ferdi lelah. Tak lama kemudian Ferdi sudah masuk ke alam bawah sadarnya.
 Arif belum bisa tidur. Ia berjalan menuju sebuah jendela besar di ruang tengah ka-marnya. Inilah saat yang paling disukai oleh Arif. Ia menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi dihiasi lampu-lampu yang indah mewarnai malam yang gelap terlihat sejauh mata memandang. Arif membuka kaca jendela itu hingga terdengar suara hingar bingar malam kota Jakarta malam itu. Suara klakson mobil yang berhamburan di udara terngiang di telinga Arif dan membuatnya merasa bebas.

 bebas…
 sebebas burung terbang di awan …
 terasa olehku, ribuan sel dan jaringan dalam tubuhku melayang ke udara …
 aku pun menyusul sel dan jaringanku …
 menuju dunia yang satu, dunia yang tidak fana …
 di mana khalayan dapat menjadi sebuah kenyataan …
 dan agama akan menjadi fondasi dunia itu tanpa kepercayaan …
 
 Entah darimana Arif mendapat kata-kata itu semua. Tapi memang benar, Arif ingin membuat sebuah dunia baru, dunia tanpa kepercayaan tapi akan ada agama di da-lamnya. Tiba-tiba jantung Arif terasa sangat sakit. Arif memegangi dadanya dan merasa-kan degupan jantung yang melambat. Arif pun mengeluarkan keringat malam itu. Sambil masih menatap gedung-gedung, Arif membuka bajunya dan langsung memegangi dada-nya dengan kedua tangannya. Rasa sakit itu menguasai Arif malam itu. Tiba-tiba Arif mengeluarkan batuk dari mulutnya dan tanpa sadar, darahpun ikut keluar dari mulut Arif. Tapi Arif harus kuat dan tegar. Ia sudah berhasil sampai di Jakarta. Sekali lagi, darah keluar dari mulut Arif. Arif masih berusaha berdiri. Ia berjanji, setelah malam ini semua pertanyaan harus terjawab, semua sakit harus disembuhkan, semua kebenaran harus dite-gakkan, dan semua janji harus ditepati.
 Arif pun menyerah. Ia berjalan menjauhi jendela menuju kamar Ferdi, tidak lupa menutup kaca jendelanya. Sekarang yang terdengar hanyalah suara dengkuran Ferdi yang tidak beraturan nadanya. Arif memasuki kamar Ferdi. Lalu, ia langsung membanting ba-dannya ke ranjang empuk di kamar itu. Arif berusaha menutup matanya dan memasuki alam bawah sadarnya. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Arif berhasil memasuki alam bawah sadarnya. Malam itu kamar Ferdi menjadi saksi bisu terhadap seorang pemu-da tak berpakaian yang terlelap dalam tidurnya dan masih bertanya-tanya tentang maksud dari kehidupannya selama ini.

  * * *

 “Arif. Ayo bangun !” seru Ferdi. Ia berdiri di pintu kamarnya menatap Arif yang masih tertidur di ranjangnya. Ferdi masih berpakaian tidur.
 Arif berusaha untuk membuka matanya. Tapi sangat sulit. Kesadaran belum men-dominasi tubuh Arif. Tapi Arif sudah bisa menggerakkan beberapa anggota tubuhnya.
 “Kamu tidak kedinginan, tidur tanpa baju ?” tanya Ferdi.
 “Tidak, kok.” jawab Arif lemas.
 “Ya sudah, aku mau solat Shubuh dulu.” jelas Ferdi. Kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan wudhu yang biasa dilakukan muslim sebelum mendirikan sholat.
 Arif tidak menduga kalau sekarang masih waktu subuh. Bahkan Arif belum me-lihat fajar di balik jendela. Langit masih hitam bertabur bintang yang gemerlap. Ingin ra-sanya kembali tidur, tetapi ia merasa tidak enak hati karena telah dibangunkan lebih awal oleh Ferdi. Tetapi untuk apa dia sholat ?
 Ferdi kembali dari kamar mandi dan mampir dulu di kamarnya.
 “Kamu tidak solat, ya?” tanya Ferdi.
 Pertanyaan itu sangat membuatnya pusing. Arif tidak mampu berpikir untuk men-cari alasan di pagi yang masih buta. Otaknya belum siap untuk bekerja.
 “Ya sudah, kalau kau masih ngantuk.” ujar Ferdi. Lalu pergi meninggalkan Arif menuju ruang sholat.
 Arif bingung atas apa yang akan dia lakukan. Apakah dia akan kabur ? Ia tidak bisa meninggalkan orang yang sudah ia tunggu-tunggu begitu saja. Akhirnya Arif menda-pat keputusan yang menurutnya masuk akal.
 Waktu untuk berpikir tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Setelah selesai sholat, Ferdi datang kembali menghampiri Arif.
 “Arif, kau tidak solat ?” tanya Ferdi lagi.
 “Aduh, aku alergi air pagi buta, Fer. Mungkin besok.” jawab Arif gemetaran.
 “Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku mau baca Al-Qur’an dulu. Setelah itu mandi. Lalu barulah aku memulai hariku.” jelas Ferdi kemudian berjalan menuju ruang baca Al-Qur’an di samping ruang makan.
 Arif sempat iri pada Ferdi yang masih berpegang teguh pada agama Allah. Apa-kah perlu Arif bertanya apa yang dilakukan Ferdi karena masih dapat percaya Allah walau sedang mempelajari filsafat ? Sepertinya tidak perlu. Arif sudah merasa bebas se-karang. Tanpa agama, aturan agama, dan yang berhubungan dengan agama. Tapi Arif te-tap keras kepala untuk tidak mau disebut Atheis.
 Beberapa saat kemudian, Ferdi kembali. Dengan pakaian siap mandi ia mengham-piri Arif lagi di kamarnya.
 “Aku mau mandi. Kalau mau sarapan, di meja sudah ada uang untuk beli sarapan di luar. Lebih baik beli nasi uduk, aku minta bawangnya yang banyak.” jelas Ferdi.
 “Oke deh.” sahut Arif.
 Ferdi berjalan menuju kamar mandi sambil bersiul-siul berirama. Tanpa menga-wasi Ferdi ke kamar mandi, Arif langsung mengambil uang di meja dan langsung berja-lan menuju pintu depan kamar Ferdi. Ketika sampai di luar, Arif sangat tidak menduga. Rumah susun sudah ramai para jama’ah Shalat Shubuh yang sudah selesai shalat. Keba-nyakan dari mereka adalah bapak-bapak dan beberapa pemuda serta remaja putri. Tanpa merasa malu, Arif terus berjalan menyeberangi lorong-lorong lantai menuju tangga. Arif menuruni tangga, dan saat itulah kehidupan Arif mulai terjawab.
 Seraya menuruni tangga yang tidak begitu curam dilindungi dindinng-dinding yang sudah terkelupas catnya membuat lorong tangga menjadi remang-remang, Arif me-natap sesuatu yang lebih indah dari terbitnya sang fajar di pagi hari. Arif melihat cahaya pagi itu. Sebuah cahaya yang akan membawa siapa saja yang melihatnya akan terpesona. Mungkin tidak terlalu layak disebut cahaya. Karena yang dilihat Arif sebenarnya adalah sesuatu yang bernyawa, hidup, dan berpikir.
 Sosok itu adalah seorang gadis cantik berkerudung menutupi seluruh auratnya. Tapi dengan tatapan mata yang tajam, Arif langsung tertegun. Gadis itu telah menyihir semua saraf di otaknya. Dengan satu senyuman yang disunggingkan oleh gadis itu, Arif langsung mabuk kepayang. Sambil terus tersenyum, gadis itu memalingkan wajahnya dari Arif dan berjalan menuju koridor lantai.
 Arif tercengang beberapa detik. Sebuah detik yang tak akan pernah terulang lagi dalam hidupnya. Tak lama kemudian dari balik tembok, muncul Ferdi dengan pakaian yang rapi.
 “Ada apa, Rif ?” tanya Ferdi.
 “Tidak ada apa-apa, Di. Aku sudah sangat lapar. Ayo cepat !” jawab Arif.
 Kemudian Arif dan Ferdi berjalan menuruni tangga rumah susun. Sepanjang per-jalanan turun, Arif tidak berkata apapun. Jantungnya berdegup kencang. Bahkan ketika sudah sampai di luar rumah susun, Arif masih tidak berbicara. Ferdi tidak menanggapi tingkah Arif yang seperti itu. Seakan Ferdi sudah tahu apa yang terjadi pada Arif. Tapi memang sesungguhnya Ferdi tidak tahu.
 Tak lama kemudian, mereka berdua sudah menenteng makanan mereka masing-masing menuju kamar Ferdi. Kemudian, Ferdi langsung membuka pintu kamarnya ketika sampai di depan kamarnya.

  * * *

 “Kau benar, dengan adanya ilmu filsafat. Maka manusia dapat membaginya men-jadi dua ilmu dasar kehidupan. Keduanya adalah ilmu alam, dan ilmu moral.” jelas Ferdi.
 “Aku tahu itu, sampai akhirnya terciptalah bahasa simbol, kan?” ujar Arif.
 “Benar, tetapi bahasa simbol atau matematika adalah turunan ilmu alam dari ilmu filsafat. Jadi intinya ..“
 “Intinya, matematika hanya dapat dijelaskan dengan ilmu filsafat. Karena ilmu filsafatlah yang telah menciptakan ilmu matematika.” jelas Arif.
 Arif dan Ferdi terus berbincang setelah mereka selesai sarapan di ruang tengah kamar Ferdi. Mereka mendiskusikan masalah filsafat hampir lima belas menit yang lalu. Ferdi senang akhir pekannya diisi dengan diskusi dengan sesama filosof.
 “Lalu bagaimana dengan ilmu sosiologi ?” tanya Arif.
 “Ilmu itu berasal dari ilmu moral.” jawab Ferdi singkat.
 “Kau tahu Auguste Conte ? Atau Herbert Spencer ?” tanya Arif lagi.
 “Siapa mereka ?”
 “Ha ! Mereka adalah sosiolog. Auguste Comte berasal dari Perancis dan Herbert Spencer berasal dari Inggris. Mereka muncul dengan beberapa teori yang mereka ciptakan tentang ilmu sosiologi pada abad ke-18 sekitar tahun 1700-1799 yaitu pada saat Re-volusi Perancis terjadi.” jelas Arif.
 “Benarkah? Aku belum mempelajarinya. Sudah ada berapa tokoh manusia yang kau tahu, Arif ?” tanya Ferdi.
 “Lumayan banyak, seperti Mahatma Gandhi, George Shoros, Rene Descartes, Mahmoud Ahmadinejad, James Monroy, John Adams, George W. Bush.” jelas Arif.
 “Tidak adakah tokoh islam yang kau ketahui ?” tanya Ferdi.
 “Sepertinya itu jauh dari filsafat.” sahut Arif.
 “Kalau begitu kita akan membahas di luar filsafat.” ujar Ferdi tegas.
 “Apa yang akan kau katakan?” tanya Arif.
 “Pernahkah kau bertanya, bahwa bagaimana Nabi Adam membuat keturunan?” ujar Ferdi.
 “Maksudnya ? Bukankah Nabi Adam membuat keturunan dengan Hawa?” sahut Arif dengan raut wajah yang bingung.
 “Iya, tapi apa kau tahu? Saat itu belum ada ajaran atau syariat tentang sunat. Kau tahu sunat?” jelas Ferdi. Arif mengangguk.
 “Lalu bagaimana Nabi Adam membuahi Hawa tanpa sunat terlebih dahulu?” ta-nya Ferdi tegas. Arif mulai berpikir.”asal kau tahu, Arif. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan kehidupanku yang belum terjawab sampai sekarang, dan itu sangat banyak.”
 Arif diam dalam setuju. Dia sangat setuju dengan Ferdi.
 “Tapi maaf, Ferdi. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.” jelas Arif.
 “Lalu kenapa otak kita berbentuk seperti orang yang sedang sujud ? Pernahkah kau bertanya seperti itu, Arif ?” tanya Ferdi lagi.
 Arif merasa pertanyaan-pertanyaan Ferdi yang telah dilontarkan dapat membuat hatinya tergugah akan kemegahan Agama Islam. Maka dari itu, Arif tidak mau menjawab apapun yang Ferdi tanya seputar Agama Islam.
 “Sudahlah, aku mulai bosan.” ujar Arif.
 “Baiklah. Apa yang ingin kau lakukan ?” tanya Ferdi.
 ”Bawa aku untuk berkeliling kota ini, Ferdi.” pinta Arif. Ferdi mengangguk.
 Tak lama kemudian, Arif dan Ferdi sudah berada di dalam bajaj.
 

 



Dikirim pada 30 Juni 2009 di Ruang Ekspresi
comments powered by Disqus


connect with ABATASA